Trash Cans

trashcans

.

.

.

“If you think someone is attractive, approach them. They might reject you, but that’s not as bad as you rejecting yourself by not trying.”

.

.

.

 

Tempat sampah adalah hal yang sangat berharga untuknya.

Dia menyukai seorang wanita yang tinggal bersebrangan di depan rumahnya, tapi dia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua itu.

Setiap harinya dia akan mengacungkan tanganya, setiap kali Ibunya bertanya siapa yang akan membuang sampah hari ini. Dia tidak menyukai sampah—Oh, dulu dia adalah orang pertama yang akan melarikan diri ke dalam kamarnya dan berpura-pura tertidur setiap kali Ibunya mulai mengeluarkan kata ‘Sampah.’

Siapa yang ingin membuang sampah? Apa menariknya membawa plastik besar berisi sampah dengan bau menyengat di dalamnya? Apa baiknya berdekatan dengan kotak sampah yang berisi ribuan virus dan bakteri?

Membuang sampah baginya adalah hal yang buruk, kecuali Han Cheonsa berada disana.

Kim Mingyu akan memulai kisahnya dari yang paling awal. Dia adalah pria muda yang menarik dan menjanjikan (Ibunya lebih suka menyebutnya sebagai remaja sok dewasa). Dia bertemu dengan cinta pertamanya di malam dia meniup lilin berangka 18, di atas kue tart yang beberapa detik kemudian telah memenuhi seluruh wajahnya.

Pertemuan mereka tidak bisa di kategorikan sebagai kisah romantis. Apa romantisnya bertemu dengan cinta pertamamu di depan tempat sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap?

Mereka bertemu di depan tempat pembuangan sampah yang berada di ujung jalan perumahan mereka. Mingyu membawa plastik besar berisi kaleng-kaleng soda, dan remah-remah kue ulangtahunya yang sudah tidak berbentuk—alasanya, karena teman-temanya terlalu brutal, dan beranggapan bahwa kue tart di hari ulang tahun itu bukan untuk di makan, tapi untuk dilempar ke wajahnya.

Dia masih ingat pandangan pertamanya saat seorang wanita dengan rambut coklat nilon dan matanya yang indah, tersenyum singkat ke arahnya—setelah dengan tidak sengaja dia hampir melempar plastik sampah itu ke arahnya. Benar-benar kesan pertama yang buruk.

Wanita itu menatapnya selama beberapa detik sebelum dia kembali tersenyum ke arahnya. Jenis senyuman yang membuat tempat sampah menjadi menara Eiffel di Paris, di dalam matanya.

“Happy birthday.”

Suaranya terdengar begitu lembut, dia menunjuk ke arah kening Mingyu yang masih dipenuhi oleh krim kue dan icing sugar. Matanya yang indah menatapnya dengan hangat—jika Mingyu bisa menggambarkan, rasanya seperti berada di dalam kubangan sampah dan di tarik menuju pabrik coklat Willy Wonka.

Seindah itu, sampah terasa sangat indah untuknya.

Sejak malam itu dia dengan tegas mendeklarasikan bahwa wanita itu adalah cinta pertamanya. Dia mulai mencari tahu siapa nama wanita itu, di blok mana dia tinggal, berapa usianya, apa yang dilakukanya—kapan dia membuang sampahnya, dan makanan apa yang di sukainya.

Dan dia mendapatkan semuanya dalam hitungan hari.

Wanita itu bernama Han Cheonsa, tinggal bersebrangan di depan rumahnya. Dia berasal dari London dan baru menempati rumah itu kurang dari tiga bulan, berusia empat tahun lebih dewasa darinya.

Dia adalah seorang art director di sebuah majalah fashion yang terkenal, dia membuang sampah setiap malam, dan dia menyukai makanan instan (Mingyu pernah membuka plastik sampahnya secara diam-diam, hanya untuk mengetahui makanan apa yang disukai wanita pujaanya itu).

Tapi hubungan mereka tidak pernah berkembang, hubungan mereka hanya sebatas pertemuan setiap malam di depan tempat sampah—satu atau dua kali, Mingyu akan mendapatkan keberanian untuk menyapanya, sisanya Mingyu hanya akan menatap Cheonsa dari balik plastik sampahnya—dengan harapan bahwa Cheonsa akan berbaik hati dan memulai sebuah pembicaraan yang lebih menarik dari; ramalan cuaca atau kucing milik tetangga mereka yang tidak pernah berhenti bersuara.

Dia menikmati hubunganya dengan Cheonsa di antara tempat sampah, dia bahkan menolak semua gadis yang menyatakan cinta kepadanya—karena dimatanya, tidak ada yang lebih indah dari Han Cheonsa dan tempat sampah yang menemani perjalanan cinta mereka selama ini.

Bahkan di suatu malam saat Cheonsa berkata bahwa dia memiliki senyuman yang menarik. Dia telah membuat sebuah janji dengan dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan melepaskan ciuman pertamanya kepada siapapun kecuali dengan Cheonsa.

Wonwoo, sahabatnya yang selalu mendengar kisah cinta satu pihak darinya, selalu berakata bahwa Mingyu tidak akan pernah mendapatkan tetangganya itu.

Wonwoo tidak tahu apa-apa. Yang mengetahui hubunganya hanyalah dia dan tempat sampah.

Tidak ada yang boleh menilai hubungan sepihaknya kecuali tempat sampah yang selalu menemaninya.

Tapi semua itu tidak bertahan lama saat dia melihat sebuah mobil mewah seri satu berhenti di depan rumah Cheonsa, dia melihat seorang pria dewasa berusia di pertengahan 30, memeluk wanita pujaanya sebelum mengecup keningnya. Lalu pria itu masuk ke dalam rumah Cheonsa, dan mobil mewahnya baru meninggalkan rumah itu di pagi hari.

Dia membuat asumsi yang buruk tentang Han Cheonsa, wanita pujaanya yang selalu membuat tempat sampah terasa lebih indah dari birunya lautan Maldives.

Mungkin apa yang di katakan Wonwoo benar, bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir dengan bahagia. Bahwa terkadang seseorang harus melepaskan cinta pertamanya, untuk mendapatkan cinta yang sebenarnya.

Lalu disinilah dia berdiri sekarang, di depan tempat sampah yang menyimpan berbagai kisah dan kenangan untuknya. Bersiap untuk melepaskan cinta pertamanya.

“Hai.”

Cheonsa menyapanya lalu memberikan senyuman singkatnya, dia membawa plastik besar berisi sampah di tangan kananya—dan menatap Mingyu sekilas.

Pria itu tidak lagi tersenyum dengan wajah merona ke arahnya, Mingyu tidak lagi mencoba memulai pembicaraan tentang kenapa tempat sampah yang selalu mereka datangi hanya berwarna hijau tua.

Cheonsa bukanlah wanita yang akan memikirkan perubahan sepele dari seseorang, tapi melihat Mingyu yang hanya berdiri disana dengan raut wajah seriusnya membuat dia berpikir, apa yang telah dia lakukan sehingga membuat pertemuan di tempat sampah ini tidak lagi menjadi satu hal yang menarik untuk Mingyu.

“Apa kau hanya mengencani pria berumur yang memiliki mobil mewah?”

Cheonsa menghentikan langkahnya dan menatap Mingyu dengan tidak percaya, ini adalah pertama kalinya Mingyu berkata lebih dari dua kata untuknya.

“Apa kau tahu siapa namaku? Apa kau tahu bahwa aku adalah orang yang sama, yang menunggu di depan tempat sampah ini hanya untuk bertemu denganmu setiap malamnya? Apakah kau tahu bahwa kau merubah tempat sampah ini menjadi lautan berlian dimataku? Apakah kau tahu bahwa aku ingin mendorongmu ke tempat sampah, setiap kali kau mengabaikanku?”

Mingyu tidak berhenti hingga disana, dia akan mengeluarkan semua yang dia rasakan selama ini. Toh, dia tidak akan pernah mendapatkan Han Cheonsa—jadi, biarkan saja tempat sampah ini menjadi saksi bisu kisah mereka sekali lagi.

“Apa kau tahu bahwa aku pernah mengorek plastik sampahmu hanya agar—“

Kata-kata itu terputus di udara saat dia merasakan sesuatu menyentuh lapisan bibirnya dengan hangat, Han Cheonsa berada di hadapanya dengan satu tangan merengkuh lehernya dan mencium bibirnya dengan lembut.

Cheonsa melepaskan ciumanya, dia menatap Mingyu yang masih kehilangan setengah kesadaranya setelah wanita yang selalu di impikanya menciumnya dengan lembut.

“If you think someone is attractive, approach them. They might reject you, but that’s not as bad as you rejecting yourself by not trying.” 

Mingyu menatap Cheonsa dengan tidak percaya, dia membiarkan wanita itu tertawa melihat ekspresi wajahnya yang bodoh.

“Jadi kau sudah tahu bahwa selama ini aku menyukaimu?”

Cheonsa memutarkan matanya dengan bosan. Dia menunjuk ke arah tempat sampah yang selalu di puja Mingyu.

“Bahkan hingga tempat sampah inipun tahu, seberapa besar kau menyukaiku.” Cheonsa mulai melangkahkan kakinya dari sana, dan membiarkan Mingyu mulai menyamai langkah mereka.

“Jadi siapa pria yang berada dirumahmu semalam?”

Cheonsa telah menciumnya, jadi menurutnya langkah selanjutnya berada di tanganya. Tidak perlu terburu-buru, mulai detik ini, Han Cheonsa adalah miliknya.

Cheonsa menatap Mingyu selama beberapa detik, dia kemudian menaikan bahunya dengan tidak perduli.

“Ayahku.”

“Jadi itu Ayahmu?!”

Kini Kim Mingyu merasa sangat bodoh, dan merasa beruntung di waktu yang sama. Bodoh karena dia merasa cemburu kepada Ayah wanita pujaanya sendiri, dan merasa beruntung karena rasa cemburu itu mengantarkanya kepada ciuman lembut dari wanita pujaanya.

Jika semua orang bertanya mengapa dia begitu menyukai tempat sampah, jawabanya sangat sederhana—karena tempat sampah membawanya ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Tempat sampah mengantarkanya pada cinta pertamanya.

Dan Kim Mingyu menyukai hal itu, tempat sampah dan Han Cheonsa yang kini berada di pelukanya.

.

.

.

-THE END-

 

.

.

Hi, this is my first ever debut in writing fanfiction about Seventeen. I’m so excited while writing this, because this is my first ever fiction about Mingyu—and I hope everyone will like it as I do. Please do leave some review and comment, so then I can write more about them in the future 🙂

P.s: It’s Seventeen, and Kim Mingyu–> Profile 

p.s: I’m not leaving my dorkies Super Junior, do not be affraid eh 💋

Also published on: Here

xo

Advertisements

One thought on “Trash Cans

  1. hai soniaaaaa, long time no see!!! hahahahaa, tenang, aku enggak bakal ngebash kenapa bang ipul banyak muncul di postingan kamu ‘how to write fanfiction’ di blog sebelah tadi pagi. semoga aja kamu masih inget aku, si reader lama yang akhirnya malah mendarat di ff mingyu-nya kamu /dan aku juga/ hahahahaa, udah ah, segini aja perkenalannya, semoga aja aku enggak dibilangin ‘banyak bacot lu’ 😀

    asyik ih, idenya. tempat sampah yang kini menjadi saksi bisu perjalanan cinta kim mingyu. aku sukaaaa <3. waktu di bagian someone dengan mobil mewahnya aku udah wanti-wanti duluan ini siapanya cheonsa. eh waktu tau kalau itu ayahnya cheonsa, aku beneran ketawaa. apalagi dihadiahin kisseu gitu kan dedek mingyu jadi seneng. masalahnya di real life wa enggak bakal ketemu cowok setampan mingyu di tempat sampah, hahahahaa

    ada beberapa typo juga di atas, son. contohnya, bersebrangan, ulangtahunya sama ada beberapa lagi 🙂
    keep writing yaa, kamu 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s