Let It Kill You

find

IJaggys

Bobby | Han Cheonsa | Angst-Romance

Aku adalah putih, sedangkan kau adalah hitam.

20|16

.

.

***

Aku adalah putih, sedangkan kau adalah hitam.

Aku ingin menceritakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin sudah pernah kalian dengar ribuan kali, karena nyatanya di dunia ini tidak ada yang baru—kita telah mencobanya, merevisi ulang hal-hal kuno dan membiarkan diri kita ikut berevolusi seiring berjalanya waktu.

Tidak ada yang baru dalam dunia ini, kecuali jika kau berhasil menemukan kehidupan di luar planet bumi, di mana NASA tengah berkerja keras untuk membuktikanya. Lagi-lagi kau kalah telak dengan evolusi di dunia ini.

Mari kita telusuri kisah ini dari bagian pertama, aku jatuh cinta.

Aku bisa mendengar suara seruan kalian yang mengusung kepadaku, karena sekonyong-konyong memaksa kalian untuk membaca kisah roman picisan yang kalian anggap terlalu klise. Aku tidak menyalahkan kalian, tapi percayalah bahwa kisah ini sedikit berbeda.

Aku tidak akan membahas bagaimana aku jatuh cinta, atau siapa gadis yang malam-malam selalu aku doakan agar aku berakhir denganya. Aku akan menceritakan gadis yang membuatku berpikir mengapa aku mencintainya, dan mengenyampingkan seluruh rasionalitasku bahwa dia adalah hitam—dan aku putih.

Gadis itu bernama Han Cheonsa, dia mungkin berusia satu tahun lebih muda dariku. Dia memiliki rambut berwarna coklat nilon, dan iris berwarna biru samudra. Dia terlihat menakjubkan di bawah terpaan sinar matahari pagi, dan patung-patung indah karya Davinci hanya akan menjadi tumpukan marmer jika Cheonsa berada disana.

Dia adalah gadis yang konservatif, dia menolak akan adanya perubahan. Hal-hal kecil yang berjalan di luar keinginanya akan membuatnya kesal setengah mati. Cheonsa adalah gadis keras kepala, dia dominan—arrogant—dan menatap rendah semua orang yang berada di garis bawah kepuasanya.

“Bobby, you’re so fucking stupid.”

Dan satu lagi, dia tidak memiliki etika ketika berbicara dengan semua orang kecuali Ayahnya.

“Babe, are you having a bad day?” Aku berdiri ke arahnya, melihat wajahnya yang tertekuk dengan gelas karton dari Starbucks di tanganya. Aku tahu gadis itu mengalami hari yang buruk. Cheonsa tidak akan pernah menyentuh kopi kecuali dia mengalami hari yang cukup gila.

“I wish I could set people on fire when they insist on kissing me when I don’t want them to touch me.” Cheonsa mendorong tubuhku dan dia berjalan menuju pantry dapur, melempar puluhan kertas sketsanya dengan asal—dan dengan sengaja menumpahkan satu kaleng soda favorite-ku, hanya untuk membuatku kesal.

“You’re so fucking stupid.” Dia menunjuk ke arah tumpukan piring kotor yang berada di meja makan, atau dia hanya memilih secara asal sebuah objek agar dia bisa memakiku tanpa harus merasa bersalah.

Bersamanya—aku selalu seperti berada di bawah bayanganya. Dia menginjak harga diriku ke titik terdalam, dan aku bahkan tidak melakukan apapun tentang semua itu.

Cheonsa membanting pintu kamar dan beberapa detik kemudian aku bisa mendengar suara rintikan air dari dalam sana. Aku tidak pernah mempercayainya, mempercayai bahwa aku berakhir dengan gadis arogan seperti dirinya. Semua orang berkata bahwa aku sedang menjalani karmaku, karena sebelum bertemu denganya—aku akan menjadi Bobby.

Bobby yang mempermainkan hati setiap gadis, dan jika gadis itu mulai menangis memohon kepadaku, aku akan menendangnya keluar dari kehidupanku hanya dengan satu senyumanku.

Aku mengambil puluhan kertas sketsa yang bertebaran memenuhi lantai marmer, dalam satu kertas sketsa itu aku menemukan tiga coretan dengan tinta merah, bahwa Cheonsa baru saja di tolak dalam sebuah perusahaan web-design yang sangat di inginkanya.

Penolakan pertama.

Dia tidak pernah menerima penolakan sepanjang hidupnya. Cheonsa selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dan terkadang hal itu membuatku muak. Aku tertawa kecil, sebagian diriku merasa senang karena gadis jahat itu menderita—tapi dalam hati kecilku, aku merasa iba kepadanya, mungkin karena aku melihatnya berkerja begitu keras untuk meraih sesuatu yang dia inginkan.

Cheonsa keluar dari sana dengan bathrobe yang menutupi tubuh sempurnanya, rambut coklatnya basah, dan matanya memerah—aku tahu dia menangis. Aku tahu bagaimana dia begitu membenci dirinya sendiri, karena setiap kali dia melihat bayanganya di kaca—yang bisa dia lihat hanyalah sosok yang sangat di bencinya. Dia membenci dirinya sendiri.

Aku tahu bahwa jika aku tetap berdiri disini, sebuah pertengkaran tidak akan bisa terhindari. Aku mengetahuinya melebihi siapapun.

“Aku akan pergi keluar. Mungkin aku akan menginap di rumah Jinhwan malam ini, kau tidak perlu menungguku.”

Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Ketika dia melakukanku seperti sampah, aku akan kembali memperlakukanya seperti seonggok sampah yang tidak terlihat. Hubungan kami begitu buruk. Entah bagaimana aku bisa mempertahankanya hingga detik ini.

“Aku berpisah dengan Hanbin.”

Aku menghentikan langkahku, dan menatap iris samudra itu. Tidak ada kebohongan disana, satu hingga lima detik aku menghitung—Cheonsa tidak bergerak, dia hanya berdiri disana menatapku dengan penuh kebencian.

“Dia mengetahui perselingkuhan ini, dan dia meninggalkanku.”

Aku ingin tertawa. Tertawa sekencang mungkin di hadapanya, aku ingin memakinya dan menyiramnya dengan segelas wine sebagai tanda bahwa aku menikmati penderitaanya. Tapi nyatanya, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya berdiri disana, mematung seperti seorang budak yang tidak memiliki kekuasaan apapun.

“Aku sangat mencintai Hanbin, bagaimana semua ini terjadi?” Cheonsa bertanya seperti orang bodoh. Dia mulai menangis, dia berlutut disana tanpa memperdulikan dinginya lantai marmer yang menyentuh kulit pucatnya.

Ini bukan pertama kalinya pria itu meninggalkanya, pria itu tahu berapa banyak gadis jahat ini bermain di belakangnya. Tapi pria itu akan tetap kembali kepadanya, karena pria itu tahu seberapa besar Han Cheonsa mencintainya.

Even God knows how much she loved him.

Atau mungkin tidak.

Tuhan tidak pernah mengetahui seberapa besar dia mencintai pria itu. Karena dia tidak pernah mempercayai Tuhan. Han Cheonsa menolak untuk mempercayai apa yang tidak bisa di lihatnya—dan jika dia benar mencintai pria itu, mengapa dia berada disini bersamaku? Bersama seorang pria yang selalu di perlakukanya seperti sampah.

Dan untuk beberapa saat aku tersadar, bahwa aku adalah putih—dan dia adalah hitam.

Aku bisa saja berlari dari semua ini. Meludahinya dan mengeluarkan kata-kata bahwa dia pantas mendapatkan semuanya. Tapi aku tidak bisa melakukanya, aku tidak bisa meninggalkan samudra itu tenggelam lebih dalam.

Aku masih berdiri disana, menatap pahatan sempurna itu menangis dan meraung, sebelum akhirnya aku merengkuh tubuh itu ke dalam pelukanku—dan membiarkanya menangis didalam sana.

Walaupun aku tahu, bahwa ketika matahari terbit aku tidak akan bisa menemukanya di dalam pelukanku. Dia akan selalu berlari mengejar untuk pria itu.

Lalu setelah semua ini terjadi, dia akan kembali mengetuk pintu apartemenku dengan mata samudranya yang indah—dan aku akan memeluknya dengan sangat erat. Mengetahui bahwa dia berada di dalam pelukanku, bagiku itu sudah cukup.

Semuanya akan baik-baik saja.

Jika kalian bertanya mengapa aku memilih untuk terus bertahan, karena mungkin bertahan jauh lebih mudah dari melupakan.

Dan karena aku mencintainya.

Sesederhana itu, aku sangat mencintainya.

Sehingga rasa sakit itu sudah tidak bisa menghantuiku lagi.

.

.

Everyone says they don’t want to hurt you, until the day comes when they do. They can’t take it back.—IJaggys

.

.

.

-FIN-

.

.

.

A/N: Hi, this is me IJaggys—The Polly Pocket Author. Believe me I’m the same person with the one who wrote Polly Pocket Hanbin lol. I don’t know why I made this, the angst me needs to release and the inner emo-me needs to speak out. So then, I’m aware that BOBBY IS SO PRECIOUS CANDYBARS lol. Comments are greatly appreciated! 🙂

xo

IJaggys

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s