Once In A Lifetime

futurepast

Written By: IJaggys

.

Once In A Lifetime

Bobby x Han Cheonsa [OC]

Genre: Romance | AU | Angst

.

“Aku melihatnya lagi, si Gadis Hujan. Kali ini untuk yang terakhir kalinya.”

 

.

.

.

***

“Bob, aku meninggalkan bagel hangat dan secangkir kopi dari Starbucks untukmu. Akan ada beberapa petugas dari home-service yang akan mengambil barang-barangku siang nanti.”

Suara itu bergema lembut di telinganya, memecah keheningan di apartemen berukuran sedang yang di sewanya dari seorang pria lanjut usia—yang memutuskan untuk pindah ke nursing home sekitar tiga tahun yang lalu, saat Bobby tengah tenggelam dalam api cintanya bersama gadis yang kini tengah memasukan barang-barangnya ke dalam kardus besar, yang dia temukan di ruang penyimpanan.

Samar-samar dia bisa mendengar suara rintikan hujan yang menghujam awan pagi. Tidak ada cahaya matahari yang menyusup di balik celah gorden tebal, di dalam apartemen itu. Tidak ada sahutan merdu dari burung camar yang selalu mewarnai paginya.

Hanya ada dentum rintikan hujan dan bunyi gesekan benda yang berpindah di dalam ruangan itu.

Bobby akhirnya membalikan tubuhnya dari bantal sofa berwarna coklat yang sejak tadi menutupi wajahnya. Setelah melalui pergulatan yang cukup panjang dengan dirinya, dia akhirnya memutuskan untuk merendahkan sedikit ego-nya dan menatap gadis yang sejak tiga tahun lalu menjadi inspirasi terbesarnya untuk menciptakan lagu-lagu sampah.

Han Cheonsa yang berkata seperti itu

Gadis itu bilang bahwa rap adalah genre sampah yang hanya di gemari oleh orang-orang ignorant yang tidak ber-edukasi. Jelas, dia ingin menghardik gadis itu karena telah menilai rendah seleranya dalam bermusik—tapi dia tidak pernah melakukanya, bahkan dia kerap menulis lirik lagunya dengan menumpahkan semua kekesalanya pada Cheonsa—kekasihnya yang datang dari Inggris dan menyukai musik Opera.

Ingatkan dia, seberapa mengesalkanya nona besar yang satu itu.

“Aku harap kau tidak menulis lagu sampah lagi, Bob.” Saat mengatakanya, Cheonsa terlihat sangat senang—dia mengambil satu kaset kompilasi yang di buat Bobby untuknya, dan memasukanya ke dalam handbag-nya tanpa memperdulikan tatapan Bobby. Dia terlihat sangat senang mendapatkan kaset itu, untuk seukuran gadis yang menilai bahwa musiknya adalah sampah.

Atau mungkin gadis itu hanya ingin mengumpulkan kenangan tentang Bobby sebanyak mungkin yang bisa di bawa bersamanya.

“Aku tidak masalah jika kau tetap menjadikanku inspirasi terbesarmu—tapi ingat, tulis aku dengan baik dan berkelas.”

Mendengar semua itu, berhasil membuat Bobby menyunggingkan bibirnya dan membuat sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat sejak pertama kali hubungan mereka berakhir. Kapan hubungan itu berakhir? Mungkin sekitar tiga bulan atau sepuluh minggu yang lalu.

Tidak ada sesuatu yang menakjubkan terjadi. Tidak ada gegap gempita perihal berakhirnya hubungan tiga tahun mereka, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki orang ketiga—mereka hanya bertengkar.

Bertengkar yang sangat hebat, dan mungkin itu adalah hal yang cukup menyakitkan untuk Bobby.

Karena pertengkaran itu seharusnya tidak mengakhiri kisah mereka.

Han Cheonsa memutuskan bahwa mereka tidak bisa lagi bersama, mungkin secara halus Cheonsa menyalahkanya karena dia tidak pernah berusaha mempertahankan hubungan mereka.

Bobby adalah Bobby, dia pria dengan arogansi yang tinggi—dia akan melakukan apapun yang dia inginkan, dan dia tidak bisa merasa terkekang. Hal-hal yang dilakukan Cheonsa diluar keinginanya, akan membuatnya sangat marah. Tidak pernah sekalipun dia mengeluarkan kata maaf dalam hubungan mereka.

Lalu detik ini dia menyaksikan gadis yang dicintainya secara pasti meninggalkanya—dia tidak tahu apa yang lebih buruk dari semua ini, dan yang hanya bisa dia lakukan adalah duduk di sofa itu, mempertahankan ego-nya dan membiarkan Cheonsa keluar dari kehidupanya.

“Bob, kau tentu akan baik-baik saja, bukan?”

Cheonsa menyadari raut wajah Bobby yang berubah. Pria yang mengisi kehidupanya selama tiga tahun kebelakang. Jika dilihat, Bobby bukanlah pria yang berada di dalam kriterianya.

Bobby jauh dari semua itu, dia menyukai musik yang dibencinya—dia angkuh, egois, dengan wajah yang selalu mengingatkanya pada Sandy si Tupai dalam kartun Spongebob.

Tapi apa yang membuatnya menyukai pria itu?

Mungkin karena dia menyukai kesederhanaan di dalam pria itu.

Dia menyukai Bobby yang sederhana—pemikiranya yang ringan dan senyumanya yang menghangatkan. Dia menyukai semua kekurangan pria itu, dan menyaksikan pria itu duduk di atas sofa dengan wajahnya yang tenang—mungkin dia harus berkerja keras untuk menghapuskan bayangan Bobby di dalam hidupnya setelah ini.

“Aku baik-baik saja—aku tidak akan mati hanya karena berpisah darimu, aku bukan lagi remaja awal yang dilanda frustasi karena hubungan cintanya berakhir—terutama dengan gadis dominan sepertimu.”

Dia terdengar begitu sesumbar. Dia tidak akan pernah mungkin mengakui bahwa perpisahan ini membuatnya hampir mati, bagaimana disetiap tarikan nafasnya selalu dipenuhi oleh rasa penyesalan karena tidak pernah memperjuangkan apa yang sangat dia inginkan di dunia ini.

Dia sangat menginginkan Han Cheonsa—lantas mengapa dia tidak pernah memperjuangkanya?

Di dalam dirinya, dia hanyalah seorang pria pengecut yang tidak bisa melakukan apapun.

Cheonsa berjalan ke arah pintu setelah memastikan bahwa barang-barangnya telah tersusun rapih. Bobby berdiri dari duduknya, tidak berusaha mendekat—dia hanya menatap wajah Cheonsa untuk waktu yang sangat lama, ingatanya atas pertemuan pertama mereka kembali terulang.

Detik-detik berikutnya akan selalu berada di dalam memorinya.

“Hey—Aku tidak suka makan sendiri, jadi mengapa kau tidak menemaniku untuk yang terakhir kalinya?”

Bobby menunjuk ke arah bagel dan kopi yang di beli Cheonsa. Dia akhirnya mengucapkan permintaan pertamanya, dia bukanlah pria yang akan meminta sesuatu kepada seorang gadis. Meminta adalah hal yang lemah untuknya. Tapi dia membuang harga dirinya hari ini untuk Cheonsa—untuk mempertahankan apa yang sangat dia inginkan.

“Tentu saja, aku tidak ingin melihatmu mati karena putus cinta denganku. Bagaimana bisa aku menolakmu?”

Mungkin dari semua perpisahan ini, Cheonsa lah yang bersifat dewasa dan menekankan bahwa mereka masih bisa menjalin hubungan baik setelah ini. Sementara Bobby tidak menyukai hal itu, dia tidak akan pernah bisa berteman dengan seorang gadis yang telah mengetahui dirinya lebih dari siapapun—dia tidak akan pernah bisa berteman dengan Han Cheonsa tanpa memikirkan hubungan mereka yang telah berakhir.

“Aku menyukai seorang gadis.”

Cheonsa menaruh bagel-nya saat Bobby melontarkan kata-kata itu di udara.

“Oh, itu adalah hal yang bagus.”

Cheonsa tidak terlihat terkejut walau tersirat sedikit kekecewaan di dalam matanya.

“Aku menemukan seorang gadis dengan rambut berwarna coklat nilon, dan mata seindah samudra menatapku dengan tenang, di bawah hujan yang mengguyur deras tiga tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, tapi ketika melihat mata samudra itu—Aku menyadari sesuatu, bahwa dia akan menjadi sosok yang sangat aku benci dan aku inginkan dalam waktu yang sama.”

“Aku sangat menginginkanya—dia membuatku gila. Gila dalam hal yang menjengkelkan, dia memaksaku untuk memakan sayuran, dia berkata bahwa selera musiku terdengar seperti sampah, dia akan sangat marah jika aku lupa membawa pesanan es krim vanillanya—dia akan sangat manja dan membuat kepalaku pecah dengan kelakuanya—tapi aku sangat menginginkanya hingga aku bisa membunuh diriku sendiri jika kehilanganya.”

Bobby mengakhiri kata-katanya dengan senyuman yang selalu berhasil membuat Cheonsa merasa tenang. Dia tidak pernah sekalipun berkata bahwa dia mencintai Cheonsa, atau bagaimana dia membutuhkan gadis itu. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia membuang ego dan mengatakan hal itu kepada Cheonsa.

Tapi Cheonsa hanya terdiam, dia tidak lagi tersenyum ke arahnya atau memulai sebuah pembicaraan atas hubungan mereka, seperti yang selalu mereka lakukan setiap kali mereka bertengkar hebat.

“Apa kau pernah mencintaiku?” Cheonsa akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang selalu berada di dalam pikiranya, dia berjalan ke arah pintu keluar dan menyandarkan tubuhnya disana, menanti jawaban dari Bobby yang lebih tertarik dengan cangkir kopinya.

“Mungkin aku hanya menginginkanmu.”

Dia telah mengutarakan apa yang dia rasakan, dan menurutnya itu lebih dari cukup. Dia tidak bisa membuang seluruh ego-nya dan mengatakan seberapa besar dia mencintai gadis itu. Dia tidak pernah mau mengakui kekalahanya bahwa tanpa Han Cheonsa dia tidak bisa menjalani hidupnya seperti dulu.

Sekarang semua berada di tangan Cheonsa, dia tidak akan memaksa gadis itu untuk tetap bersamanya.

“Kau tidak pernah berubah Bobby. Kau tetap menjadi pria yang keras kepala dan arogan, aku pikir itu adalah hal yang membuatku menyukaimu.”

Bobby tertawa kecil, sekarang dia bisa membayangkan bagaimana kehidupanya akan berjalan tanpa gadis itu, dan mungkin semua perpisahan ini tidak seburuk yang dia kira—atau mungkin, belum.

“Jangan tidur terlalu malam, berhenti memakan junkfood,—dan berhentilah menulis lagu sampah, sekarang kau telah kehilangan inspirasimu, apa yang harus kau tulis nanti?”

Bobby tahu perpisahan ini akan kembali memburuk, ketika dia sudah tidak bisa melihat gadis itu lagi di dalam apartemenya. Sekarang yang dia lakukan hanyalah menatap wajah Cheonsa, dan menyimpanya di dalam memorinya sebanyak mungkin.

“Tentu saja aku akan mencari gadis baru yang merasa senang ketika aku menulis lagu sampah untuknya, dan gadis yang tidak akan memaksaku memakan sayuran hijau. Memiliki kekasih sepertimu, sungguh menjengkelkan.”

Ini adalah hal yang selalu mereka lakukan, bertengkar dan saling membalas gurauan sarkastik. Dia tidak pernah menyangka bahwa waktu itu akan datang, waktu dimana pertengkaran mereka dan gurauan sarkastik mereka akan berakhir.

“Bob,”

Suara Cheonsa memecah keheningan disana, Bobby mengalihkan pandanganya ke arah Cheonsa—menatap wajah itu lekat-lekat, sebelum dia mendengar suara itu mengalun lembut di telinganya.

“Aku sangat menyukai senyumanmu.”

Mungkin itu adalah kata-kata terindah yang pernah di ucapkan Han Cheonsa kepadanya. Mungkin itu adalah cara lain untuknya mengucapkan kata-kata perpisahan yang selalu di bencinya.

Dan setelah kata-kata itu terhenti, dia menyaksikan gadis itu melangkah keluar di iringi suara pintu yang tertutup—dia hanya berdiri terdiam disana, memandang ke arah jendela, menatap punggung kecil gadis itu di bawah derasnya hujan yang membasahi rambut coklat nilonya.

Bobby menyaksikan Han Cheonsa yang semakin menjauh dari pandanganya, hujan semakin menghujam dengan deras—kilasan memori atas pertemuan pertama dan perpisahan mereka akan selalu berada di dalam matanya.

“Aku melihatnya lagi, si Gadis Hujan. Kali ini untuk yang terakhir kalinya.”

Mungkin dia akan menyesali semua ini.

Menyesali keputusanya karena tidak berlari mengejar gadis yang sangat di cintainya, menyesali keputusanya mengapa dia mempertahankan ego-nya dan membiarkan Han Cheonsa berjalan keluar dari kehidupanya.

Dia masih menebak apa yang akan terjadi kepada dia dan Cheonsa detik ini, jika saja dia berlari dan mengejar Cheonsa di luar sana—jika saja dia berlari dan memeluk gadis itu.

Semua orang memiliki satu kesempatan di dalam hidup mereka yang tidak akan pernah bisa terulang, dan untuk Bobby—satu kesempatan di dalam hidupnya, adalah ketika dia memiliki Han Cheonsa dan bagaimana dia membuang kesempatan itu di luar sana.

Meskipun dia selalu berpikir bawa dia memiliki ribuan kesempatan di dalam hidupnya, tapi kini dia sadari, bahwa satu kesempatan di dalam hidupnya adalah detik ini—detik dimana dia kehilangan gadis yang di cintainya.

Dan kesempatan itu tidak akan pernah kembali lagi untuk selamanya.

.

.

-FIN-

 .

.

A/N: Hi ini adalah fanfiction yang mengantarkan aku menjadi newcomer author di IFI, (coughs sorry i need to bring the angst me under the Polly Pocket Hanbin’s issue lol) FF ini nanti ada sequel-nya yang berhubungan dengan prompt dari event terbaru yang diselanggarakan IFI 🙂 Comments are greatly appreciated! 

xo

Advertisements

2 thoughts on “Once In A Lifetime

  1. AKU MAU NYAMPAH, SONIAA. SUMPAH, AKU MAU NYAMPAH, IH. AKU KEZEL SAMPAI KEZELNYA PAKAI Z BUKANNYA S. hahahaha

    lupakan fakta ini hampir jam lima pagi dan aku ada kuliah jam delapan pagi nanti. dan lagi aku masih asyik mengarungi ‘blog pemujaan hanbin and bobby’-nya kamu. seriusan, son. kamu buat aku jadi mengasihani diri sendiri banget 🙂

    satu hal yang selalu aku appreciate dari kamu adalah, kamu enggak ‘terlalu’ peduli dengan ‘eyd’ atau tata bahasa atau yang lainnnya, tapi, tetap aja tulisan kamu enggak bisa dianggap remeh. aku yang ngikutin ijaggys dari tahun 2012 dulu kalau kamu juga masih ingat /and i swear, kamu juga enggak bakal ingat aku karna kamu punya banyak sekali fans, dear/ terus kegiatan blogwalking aku terhenti hampir setahun lebih dan sekarang seneng banget bisa kembali.

    you have a good taste dalam menulis, dear. seriusan, aku enggak bakal bicara bohong kaya bang ipul yang membohongi ipullovers :D. aku masih ingat mahakarya kamu di ijaggys ya, son. lovely complex jelas banget di ingatan dan masih tetap segar sekali. tetap, kamu punya style yang orang lain enggak punya. yah, i mean itu yang buat kamu beda. dann, that’s why aku jadi komen yang panjangnya ngalahin drabble karna seneng bisa baca lagi karya nona besar setelah sekian lama.

    rasanya masih sama, aku selalu suka sama all of your dialogues, dear. rasanya aku antara nonton drama sama baca ff. hahahaha, udah aku baca ini sambil dengerin instrumental kenny g. lagi, ahhh, thankyouuu for writing this, soniaaa /and bobby, too/

    me loves you always, lah. Semangat yaaa, kamu 🙂

    Like

    • Hi myk thankyou for coming and dropping by! Honestlly, there’s a lot of drabble above there lol but thankyou.
      I don’t intend to change my writing’s style, because I feel comfy enough to write like a total byotch but still–everyone loves me that’s a pro about being the good first lady<3

      Last, fuck EYD when you have tons of good shits to write. In the end, people will still find fault in perfection even if you write with EYD and literature shits. Is that a new trend to write with such glamour vocabs that no one knows about? Well,good luck out there.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s