Out Of Arms

you

IJaggys

Kim Hanbin | Han Cheonsa | Bobby | Angst | Romance

.

“I learned some people really can’t be replaced.”

.

.

***

Perubahan.

Satu kata yang membuat beberapa orang meringis ketika mendengarnya. Banyak orang yang takut menghadapi sebuah perubahan. Mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang yang konservatif. Orang-orang yang tinggal di pinggiran kota, atau lebih—menyesap gaya hidup sub-urban yang belakangan banyak berkembang di kota-kota besar.

Mereka takut akan sebuah perubahan yang akan berdampak bagi kehidupan mereka di depannya. Bedakan dengan orang yang benar-benar menolak sebuah perubahan karena mereka enggan untuk berubah. Jinhwan, teman satu kantorku lebih suka menyebut orang-orang konservatif itu sebagai kumpulan pemalas yang mengemban perubahan ketika terdesak.

Lupakan tentang konservatif—gaya hidup sub-urban, atau tentang mengemban perubahan. Nyatanya aku masih menemukan seorang wanita kelas atas yang masih takut menerima sebuah perubahan, dia bahkan bukan sosok yang konservatif—dia adalah wanita bebas yang memiliki pilihannya sendiri, dan ketika dihadapkan pada sebuah perubahan, dia akan bergerak mundur secara perlahan.

“Aku tidak tahu apakah ini adalah gagasan yang bagus.” Han Cheonsa, wanita yang tadi aku bicarakan, memijat keningnya. Satu atau dua kali, aku melihatnya memutari apartemen itu dan mengambil barang-barang yang akan dia tinggalkan, kemudian dia akan mengeluarkan semua barang itu lagi.

“Lebih dari apapun yang aku tahu, ini adalah keputusan terbaik yang kau ambil.” Bobby—jika aku tidak salah mengingat namanya. Pria itu membawa sebuah kotak besar di tangannya, wajahnya terlihat sangat serius, seakan-akan dia sudah muak dengan semua ini.

“Aku tidak ingin menjual apartemen ini. Kau bisa menelfon agen penjualan, dan berkata bahwa aku adalah wanita yang sangat buruk, kemudian kita bertengkar hebat—lalu perjanjian penjualan apartemen ini kita batalkan.” Cheonsa menatap Bobby dengan bersungguh-sungguh. Aku tahu seberapa banyak kenangan yang terkubur di dalam sini, kenangan yang dulu selalu Cheonsa katakan sebagai sebuah kenangan picisan yang tidak ingin dia ingat.

Kenangan-kenangan dimana saat dia menemukanku berdiri di depan pintu apartemen ini untuk yang pertama kalinya.

“Kau sangat mengesalkan Kim Hanbin, aku tidak mengerti mengapa kau rela meninggalkan semua kehidupanmu untuku.”

Aku akan selalu mengingat kata-kata itu. Dia berkata dengan nada yang terlampau senang, mata samudranya berusaha menutupi rasa bahagianya ketika dia menemukanku di sana.

Aku adalah pria yang konservatif, aku datang dari pinggiran kota—menolak semua perubahan hingga akhirnya aku bertemu dengan Han Cheonsa. Dia membuatku mengerti bahwa satu perubahan bisa membuat hidup kita berubah untuk selamanya.

“Jadi apa yang kita lakukan disini, selain melihatmu menghabiskan rasa takutmu dengan semua ini?” Bobby membanting kotak besar yang berada di tangannya lalu menatap Cheonsa dengan lurus.

“Dia mungkin akan kembali. Hanbin mungkin akan kembali, dan aku tidak harus menyingkirkan semua ini.” Cheonsa menundukan wajahnya, seakan tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Dia tahu bahwa kata-katanya tadi membuat pria itu marah. Bobby akan selalu marah ketika Cheonsa menyuarakan namaku di udara.

“Apakah aku masih harus bersaing dengan pria itu? Setelah semua ini, bagaimana bisa kau berkata seolah-olah dia masih berada di sini?” Suara tegas Bobby memecah keheningan di sana, Cheonsa tidak menjawab—dia lebih memilih memandang kaca jendela yang berada di ruangan ini.

“Kau tahu? Aku berhenti. Aku berhenti mengejarmu. Kau bisa menunggu pria itu selama yang kau mau, tapi itu tidak akan pernah merubah semuanya. Dan di akhir hari, kau akan datang terseok kepadaku—menyadari apa yang aku katakan detik ini adalah kebenaran, dan aku akan menjadi orang yang telah mengetahui hal itu, bahwa Kim Hanbin tidak akan pernah kembali.” Bobby membanting pintu apartemen itu dengan keras, meninggalkan Cheonsa yang masih menatap kaca jendela itu.

Dia tidak bergerak, dia hanya terdiam di sana untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya dia berjalan menyusuri apartemen itu. Dan mulai memasukan barang-barang miliku ke dalam kotak besar.

Dia menekan tombol pesan di pesawat telepon, secara perlahan pesan suara mulai terputar dengan rapih di sana.

“Hey, ini aku Jinhwan—teman Hanbin, kita pernah bertemu satu tahun yang lalu—“

Cheonsa memasukan barang-barang itu diiringi suara Jinhwan yang terekam melalui pesan suara.

“Aku tidak tahu apa kau telah mendengarnya—tapi aku baru saja mendapatkan kabar, bahwa Hanbin—pesawat yang ditumpanginya, kehilangan kontak, pesawatnya menghilang di sekitar Samudra Artic—Well, hubungi aku secepatnya.”

Pesan suara itu terganti otomatis, untuk beberapa saat Cheonsa terdiam. Dia telah mengulang pesan suara itu ribuan kali, dia telah mendengar setiap kata yang keluar dari sana. Tapi tetap, pesan suara yang dikirimkan Jinhwan enam tahun yang lalu akan selalu terputar di otaknya.

“Hey, ini aku Hanbin. Kau mungkin telah mengetahui apa yang akan aku katakan.”

Aku bisa mendengar suaraku terputar di dalam mesin suara itu. Aku masih ingat, saat itu aku berada di Swiss, sebuah perjalanan bisnis yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya.

Cuaca yang buruk membuat jadwal penerbanganku tertunda. Banyak di antaranya yang melayangkan keluhan kepada pihak penerbangan karena telah membuat mereka menunggu selama lebih dari delapan jam di ruang bandara. Sehingga pihak penerbangan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan jam penerbangan.

“Aku mencintaimu.”

Cheonsa tersenyum. Dia tidak pernah berhenti tersenyum setiap kali aku mengatakan hal itu kepadanya, wajahnya perlahan mulai berubah dan menjadi lebih tenang dari sebelumnya, dia memutuskan untuk duduk di sebuah sofa dan mendengarkan kata-kata yang sudah dia dengan ribuan kali.

“Tentang pertengkaran kita sebelum kepergianku ke Swiss—aku merasa menyesal. Aku tidak seharusnya memulai semua pertengkaran ini. Kau berhak untuk membenciku.”

“It never really hit me until I felt the sweet pain when I was watching your back while you were walking away. Then I realized I never loved someone in the way I loved you, and I realized that you really were the only one I wanted to be with.”

Senyuman di wajah Cheonsa kembali menghilang. Dia terus menatap mesin suara itu yang tetap berputar, seakan mengingatkan bahwa semuanya hanya berada di dalam sana.

“Because I know, one day you will see all the things that we can be, Han. One day.”

Dan suara pesan itu terhenti hingga di sana, meninggalkan Cheonsa dengan semua kenangan yang berada di belakangnya. Dia tahu bahwa semua itu kini berada di masa lalu.

Di waktu dimana kita masih bersama. Waktu dimana sangat berarti untuk kita berdua, sebuah waktu dimana kita berdua berharap bisa memutar segalanya dan mengembalikan apa yang telah hilang. Tapi semua itu berada di masa lalu, dan kita tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu.

Cheonsa menarik nafasnya dengan dalam, dia menatap sebuah bingkai foto dengan aku tengah memeluknya. Dia mengambil bingkai foto itu, menatapnya selama beberapa detik sebelum setetes air mata jatuh dari kelopak samudranya.

“I used to constantly look for people to replace you. Someone to talk to everyday, someone to trust, someone to believe in, someone to love, someone to have the time of my life with. I stopped though. I learned some people really can’t be replaced.”

Dia menghentikan kata-katanya sejenak, berusaha untuk mengalahkan semua rasa takutnya selama ini. Rasa takut akan sebuah perubahan setelah aku meninggalkannya.

“You never really left, because I love you and that’s all the things that we can be, Kim Hanbin.”

Setelah kata-kata itu terucap, pintu apartemen itu kembali terbuka. Bobby berdiri di sana dengan mata penuh rasa bersalah.

Cheonsa menatap pria itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berlari ke dalam pelukannya.

Aku selalu menunggu ketika hari ini tiba. Menunggu ketika akhirnya Han Cheonsa mengalahkan rasa takutnya, dan memulai sebuah perubahan besar untuk meninggalkan apa yang kita miliki di belakang sana.

Han Cheonsa telah berhasil mengalahkan semua rasa takutnya—dan dia memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu untuk terus melanjutkan hidupnya, di mana aku berada di dalamnya.

Dan aku tersadar bahwa aku tidak pernah menghilang di dalam samudra itu, aku tidak pernah benar-benar meninggalkannya—karena aku akan terus hidup di dalam semua kenangan yang dia bawa di setiap hembusan nafasnya.

One day you’ll wake up, and they’ll be gone, or you will. That’s life, you can’t change it.

.

.

She loved me but not enough to stop pushing. I loved her but not enough to never give up. And so here we stand just out of arms reach in love. –Kim Hanbin.

.

.

-FIN-

Thankyou for reading this angst, honestly I came up nothing for this. But hope you all like it, and I’m gladly accepting your comment nor review for this fic 🙂

xo

IJaggys

Advertisements

6 thoughts on “Out Of Arms

  1. Lagi ke IFI dan menemukan blog Ijaggys yang isinya iKon (probably 17 and winner too ♡).

    Ini sebenernya aku agak ngakak sih ngebayangin Hanbin, gara-gara di Duckling Taylor semua anak iKon ampas-ampas gak jelas semua 😂 😂 😂. Tapi tetep sedih :””” dan cheonsa ya ampun, kalo gak mau ama bobby dan masih mau ama hanbin, bobbynya buat aku aja LOL ((dihajar)).

    Ditunggu Bobby Cheonsa yang somplak-somplak lagi kak, atau winner HAHAHA

    Like

    • HAI SHER OMG YOU’RE HEREEEEEE! Kamu Alien pertama yang berkunjung ke catshires, tapi betewe aku sedih……aku ga diajak colab sama kalian 😦 padahal aku ingin ikut meramaikan event itu dengan kehadiran Bobby si sampah kesayangan buat godain Nam Diva😌😌😌😌😌😌😌😌😌

      Aku udah curhat ke Tata dan Becca biar next time kalian ajak because, biarpun muka Bobby kaya rumah makan padang aka Sederhana, tapi dia itu luar biasa sampah menggemaykan. Plisss dong kita colab berempat, biar aku bisa menyebarkan virus BB (Bobby Bieber). sebentar lagi aku juga bakal menyampahkan Winner HAHAHAHA……..dengan memasukan Bobby ke kehidupan mereka.

      Anyway, Sher ini lebih ke curhat tentang obsesiku menyampahkan dunia dengan wajah Kimbap sih but THANKYOU FOR COMING AND DROPPING BY!😻😻😻😻😻😻😻😻😻

      Like

      • HOORAY I’M THE FIRST ONE! 🎉🎉🎉🎇 Catshiresnya emesh, backgroundnya muka bobby gede banget 😂😍😂😍😂

        Rumah makan padang, sederhana juga, banyak yang suka kan hahaga. Itu dadakan banget :”” yuklah secepatnya, Bobby Bieber (Justin harus seneng nama Bobby jadi gitu) memang harus sering-sering dinistakan HAHAHA. Tolong aku udah gregetan ngebayangin Winner di tangan kak sonia apa kabar, apalagi ada manusia bernama Bobby itu (dan kalo ada mbak Cheonsa nanti makin dibully) LOL.

        You’re welcome kak X) Aku bahagia kak sonia ngelirik anak YG 🎉🎉🎉

        Like

      • HAHAHAHA Setelah di liat-liat ini blog kaya tempat pemujaan aku buat bobby dan hanbin, dan the rest tim penggembira iKON.

        Lucu bgt kan Sher backgroundnya? Kaya si sampah itu pengen air kiss kita #lah hahaha pokoknya secepatnya ketika aku kembali ke Line, aku bakal terror kalian dengan colab x Bobby Bieber💏💏💏💏💏💏💏💏

        Aku malah kasian sama Winner. Ampe sekarang aku masih ga tega menghancurkan image classy mereka (kalo iKON gausah ditanya, mereka mah sampah dari lahir💋) tapi pasti tragedi Winner On Crack akan terjadi wkwkwk

        Aku juga bahagia menemukan si sampah bobby bieber🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

        Like

      • BLOG PEMUJA HAHAHA. PEMUJA MANUSIA TERNISTAKAN 😂😂

        Mending mas muka sederhana aja yang ke jakarta abis itu ngasih cium di pipi HAHAHA. Kayaknya aku harus siap-siap kalo tetiba ada nama Bobby Bieber muncul beruntun di hape nih LOL.

        Mereka image doang classy, di Winner TV ampasnya setara (atau sedikit lebih baik) daripada iKon 😂😂😂😂😂😂 Tragedi Boyband on Crack by Ijaggys harus jadi Tragedi berlinang air mata efek ketawa LOL.

        Liked by 1 person

  2. Esaa says:

    Huhuhu….. si Hanbinnya koit. Jadi selama 6 tahun Bobby menunggu Cheonsa dengan setianya, Cheonsa yang masih hidup di masa lalu. Fukfukfuk…. jadi inget movie india lawas Mohabbatain, yang salah satu pemeran cewenya selalu menunggu kehadiran suaminya padahal mah……..
    Oke…oke..ijjagys, boleh aku tau kapan kamu mulai menyukai Bobby – cs?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s