The Loved Ones

 

Processed with VSCOcam with b1 preset

The Loved Ones

Author: IJaggys

Jeon Wonwoo | Han Cheonsa [OC] | Kim Mingyu [Supported Cast]

Length: 1000 Words

Based on Prompt A: “Siapa yang rela menukar kehangatan musim semi dengan dinginnya salju?”

***

 

“Siapa yang rela menukar kehangatan musim semi dengan dinginnya salju?”

Itu adalah pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sebelumnnya. Aku tidak pernah menyukai musim semi atau musim dingin, pertanyaan klise yang aku buat dan aku tidak menemukan jawabannya.

Nyatanya, aku tidak pernah menyukai musim apapun—orang berkata aku adalah pria tanpa emosi, mereka salah. Aku adalah pria yang memilih menghilangkan rasa itu dalam kehidupanku, setelah pertanyaan pertama melintas tanpa pernah memiliki kesempatan untuku menjawabnya.

Mingyu, sahabatku—teman satu flat-ku yang baru, membawa dua kardus penuh berisi dekorasi pohon natal yang tidak pernah aku gunakan.

“Wonwoo, sebentar lagi ada petugas home-service yang akan membantumu membawa semua barang disini.” Suara Mingyu terdengar samar di pendengaranku.

Mataku menatap lurus pohon natal yang menjulang tinggi disana, pohon natal yang tidak pernah aku selesaikan.

Mingyu seakan menimbang haruskah dia membuka pembicaraan ini dengan topik yang akan membuatku terhentak atau memilih diam, dan berperan sebagai sahabat yang menghargai keputusanku.

“Aku bisa membawa pohon natal ini ke flat kita. Aku bisa membantumu mendekorasi pohon itu.” Mingyu memilih untuk tidak membawa pembicaraan itu ke permukaan. Tapi hal itu membuatku merasa tergelitik.

“Kau tahu? Dia juga berkata seperti itu, dia menjanjikanku bahwa dia akan membantuku menyelesaikan dekorasi pohon natal ini.” Aku membayangkan wajahnya saat dia meyakinkanku untuk membeli pohon natal terbesar yang dilihatnya.

“Dia memaksaku untuk membeli pohon natal ini, dan menghabiskan seluruh uangku dengan puluhan dekorasi yang dipilihnya secara asal. Aku pikir dia benar-benar harus bertanggung jawab atas kekacauan ini.”

Aku mengambil satu kartu ucapan selamat natal yang kosong. Aku berada disana, ketika dia memilihi puluhan kartu natal untuk ditulisnya sendiri. Mingyu tidak bersuara, aku tahu bagaimana Mingyu menghormati semua keputusanku untuk bersamanya.

“Aku rasa Han Cheonsa memang gadis yang menarik.” Mingyu menarik satu gelas dengan wajahku dan wajahnya, foto yang diambil disebuah tempat yang menjual kebahagiaan di dunia—Disneyland. Gadis itu lebih suka menyebutnya, tanah penuh harapan.

“Kau adalah orang pertama yang berani menyebut nama itu di depan wajahku, setelah sekian lama—tujuh minggu, mungkin?”

Mingyu menerima ucapanku dengan tersenyum senang.

“Cheonsa meninggalkanmu, itu adalah hal yang bagus.” Dia memulainya dengan intonasi yang ringan. Kata-kata pertamanya tentang Cheonsa. Aku masih mengingat bagaimana Mingyu berkata bahwa Cheonsa bukanlah gadis yang baik untuku, bahwa gadis sempurna seperti dia hanya bermain dengan perasaan setiap pria yang memujanya.

Mingyu tidak terlalu menyukai Cheonsa, mungkin karena semenjak mengenal Cheonsa—aku menghabiskan seluruh waktuku bersama gadis berambut coklat nilon tersebut.

Mingyu tidak pernah mengetahui apa yang terjadi diantara diriku dan Cheonsa, yang dia ketahui adalah Han Cheonsa meninggalkanku, dan aku memutuskan untuk pindah bersamanya.

Tidak ada satupun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Cheonsa meninggalkanmu begitu saja—sebenarnya apa yang membuatmu mencintainya begitu dalam?”

Bayangan atas Cheonsa tertawa di ruangan ini akan selamanya berada didalam memoriku. Aku memandang butiran salju yang gugur secara perlahan dari pintu balkon yang terbuka. Dia selalu menyukai musim dingin, dia selalu menyukai bagaimana butiran salju pertama, menyentuh kulitnya dengan lembut.

“Kau tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Setiap harinya kau terbangun, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi didalam hidupmu. Apa yang bisa hidupmu lakukan dalam setiap detiknya.”

Mingyu membiarkanku menlajutkan apa yang ingin kukatakan. Alasan pertama yang akan di dengarnya mengapa aku begitu mencintai Han Cheonsa.

“Kau terbangun di setiap paginya, bertanya apa yang akan takdir berikan kepadamu. Bertanya apakah kau bisa mengulang semuanya kembali? Dan beribu ‘bagaimana jika’ berada di benakmu.”

“Tapi semua itu berubah saat kau bertemu denganya. Seseorang yang akan membuatmu terbangun setiap paginya dan berpikir bahwa kau bisa merubah segalanya—semua yang telah kau lakukan, kau bisa merubahnya kembali, dan ketika dia tersenyum—kau tahu bahwa dia telah menjadi bagian terdalam di hidupmu, bagian yang tidak akan pernah menghilang.”

“Hingga kau menghembuskan nafas terakhirmu di sebuah ranjang yang nyaman dengan rambut yang telah memutih. Bagiku, Han Cheonsa adalah dia. Dia yang menjadi bagian terdalam di hidupku.”

Aku mengakhiri kata-kataku dengan sebuah senyuman, senyuman yang selalu aku tunjukan untuk Han Cheonsa. Mingyu terdiam, sebelum dia mengucapkan satu pertanyaan yang selalu berada dalam diriku selama ini.

“Jika kau begitu mencintainya, mengapa kau tidak mengejar dan memperjuangkanya?”

Aku kembali tersenyum ke arah Mingyu.

“Aku sangat mencintainya. Aku memperjuangkanya, mengejarnya hingga aku tidak memiliki kekuatan lagi. Tapi takdir tidak mengizinkanku—“

Untuk beberapa saat ruangan itu dipenuhi oleh keheningan, sebelum suaraku menggema lepas.

“Karena Tuhan jauh lebih mencintainya.”

Meninggalkan sebuah kebenaran yang memilukan disana.

***

EPILOG

“Siapa yang rela menukar kehangatan musim semi dengan dinginnya salju?”

Han Cheonsa tertawa mendengar pertanyaan Jeon Wonwoo, pria yang ditemuinya disebuah rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Pria yang berteriak seperti anak kecil saat Dokter mengeluarkan jarum suntiknya, untuk meredakan rasa sakit dari tulang kakinya yang patah setelah mobilnya menabrak pembatas jalan.

“Itu adalah pertanyaan bodoh. Hanya kau yang rela menukar hangatnya musim semi, dengan dinginnya salju.” Wonwoo menatap kekasihnya dengan skeptis, dia menyodorkan beberapa pil—yang di tolak Cheonsa dengan tegas.

“Aku akan tetap mati, tidak perduli berapa banyak obat yang kau berikan kepadaku.” Cheonsa menyukai gurauan sarkastik, gadis sempurna yang divonis penyakit mematikan satu tahun lalu—gadis sempurna yang menolak melakukan chemotherapy karena dia tidak ingin kehilangan rambut indahnya. Gadis sempurna yang merubah hidupnya, saat dia menemukan senyuman indah itu di lorong rumah sakit yang menyesakan.

“Kau akan tetap hidup. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah begitu saja, kau masih memiliki janji untuk membantuku membereskan semua kekacauan ini.” Wonwoo menyentil kening Cheonsa dengan pelan, tanganya menunjuk pohon natal yang baru dibelinya—pohon natal yang mereka beli di musim semi.

Gadis itu tertawa, merasa senang karena telah membuat kekacauan ini.

Dia menatap punggung Wonwoo yang berjalan menjauh darinya, dia memandang pria itu dengan dalam—mengumpulkan memori sebanyak yang dia bisa, tentang pria yang telah menemani hari-hari terakhirnya.

“Wonwoo, kau tahu mengapa aku rela menukar hangatnnya musim semi dengan dinginnya salju?”

Wonwoo menghentikan langkahnya. Kata-kata itu terhenti di udara, membiarkan keheningan kembali menyusup diantara mereka. Sebelum suara itu kembali mengalun dengan lembut disana.

“Mungkin karena aku tahu, bahwa aku tidak akan berada disini ketika dinginnya salju datang.”

Jeon Wonwoo sangat mencintainya, tapi dia tahu bahwa Tuhan jauh lebih mencintai Han Cheonsa.

-FIN-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s