Drunk In Love

4

By: IJaggys

Drunk In Love

| Bobby | Han Cheonsa | Romance | Fluff | Slice Of Life | AU |

.

I’m going to kill you sweetheart.

.

Han Cheonsa menarik nafasnya dengan sangat panjang, berusaha menahan insting binatangnya agar tidak merencanakan pembunuhan kepada kekasihnya. Kekasihnya yang berlebihan, datang dalam kondisi sangat mabuk sehingga Bobby tidak bisa mengenal Han Cheonsa. Iblis bermata tiga, yang selalu di deklarasikannya.

Bobby melangkahkan kakinya dengan limbung menuju konter dapur, dan dengan kondisi setengah sadar—dia mengambil apapun yang ditemukannya di dalam lemari pendingin, membuat semua minuman dan krim pudding yang berada didalam sana jatuh berserakan mengotori seluruh lantai marmer dan kemeja putih Bobby.

“Oh tidak, si iblis bermata tiga itu pasti akan membunuhku jika aku pulang dalam kondisi seperti ini. Apa kau mau menghubungi komisi perlindungan pria, dan sampaikan kepada mereka bahwa Bobby membutuhkan perlindungan dari iblis bermata tiga yang telah menunggunya di rumah?”

Bobby benar-benar mabuk, sehingga dia tidak menyadari bahwa dia sudah berada di rumah—dan iblis bermata tiga itu telah menatapnya dengan sadis.

Bobby akan menyesali semua ini, ketika dia tersadar dari mabuknya.

Kekasihnya itu kini membaringkan tubuhnya di atas lantai penuh krim putih dengan satu tangan mengacak-ngacak tempat sampah, membuat Cheonsa berpikir keras. Haruskah dia membuang Bobby ke tempat sampah, atau haruskah dia membiarkan pria itu berkubang dengan apapun yang dia inginkan dari tempat sampah hingga pagi hari.

Lalu dengan pertimbangan yang berat, dia memutuskan untuk mengeyampingkan sisi kejamnya dan menarik kaki Bobby dengan kedua tangannya menunju ruang tengah apartemen mereka. Cheonsa sedikit meringis ketika karpet beludru kesayanggannya, kini telah dipenuhi oleh krim putih dan campuran sampah yang menempel di pakaian kekasihnya.

“I’m going to kill you sweetheart. I guarantee it, you re going to regret your decision.” Bisik Cheonsa, seraya menyiapkan mentalnya untuk menyentuh kancing kemeja Bobby yang sudah sangat lengket dan mengeluarkan aroma seperti sampah. Dia benci kekasihnya, terlebih dia benci dengan dirinya sendiri yang begitu menyayangi si sampah Bobby.

Perlahan, Cheonsa mulai membuka kancing kemeja Bobby. Membiarkan pria itu berguman tidak jelas, bahwa dia harus segera pulang. Lalu ketika Cheonsa berhasil membuka semua kancingnya dan akan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya, dengan sigap Bobby menghentikan tangan Cheonsa dan menatap wanita itu dengan sangat serius.

“Kau harus berhenti, karena aku tidak menyukai apa yang akan kau lakukan.” Suaranya terdengar begitu bersungguh-sungguh, dan setengahnya lagi kekasihnya itu merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Cheonsa terhadap dirinya.

“Kenapa?” Cheonsa bertanya dengan bingung, dia tidak melakukan hal yang salah. Dia hanya berusaha mengganti pakaian si dungu Bobby yang sudah beraroma seperti sampah dan campuran susu basi.

“Karena aku telah memiliki kekasih, dan aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin menyakitinya dengan kebodohanku sendiri, aku harap kau mengerti.” Bobby melepaskan tangan Cheonsa dari dadanya, lalu dengan satu gerakan dia kembali membaringkan tubuhnya di atas karpet dengan kedua tangan mendekap tubuhnya erat-erat, seakan melindungi dirinya dari Cheonsa.

Untuk beberapa saat Cheonsa hanya terdiam disana, menatap Bobby yang sudah jatuh terlelap pulas dengan tidak percaya. Dia selalu memikirkan kekasihnya sebagai pria yang flirtatious, dan mencintai berbagai wanita diluar sana.

Tapi kata-kata sederhana yang datang dari bibir kekasihnya yang sangat mabuk berhasil membuat wajahnya bersemu merah untuk yang pertama kalinya.

Dengan perlahan Cheonsa membaringkan tubuhnya di samping Bobby, dia menatap wajah kekasihnya itu untuk beberapa saat sebelum kembali tersenyum malu seperti gadis remaja yang tengah tenggelam dalam lautan cinta.

Cheonsa mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir Bobby dengan lembut membiarkan pria itu berguman dalam tidurnya. Cheonsa memeluk Bobby tanpa memperdulikan lengketnya krim pudding dan aroma susu basi yang menyerbak dari sana.

“Oh you look like shit, Bob.” guman Cheonsa ketika jari-jarinya menjelajah rahang wajah Bobby yang sempurna. Tapi kemudian dia kembali tersenyum, dan berbisik.

“But you’re my shit.” Bisiknya diiringi oleh kecupan lembut di bibir Bobby, sebelum Cheonsa jatuh tertidur di pelukan Bobby. Mengetahui bahwa Bobby tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan dalam kondisi tidak sadar sekalipun.

Because Bobby is Han Cheonsa’s favorite shit.

.

.

-FIN-

.

.

Hi, after M.I.A from this blog. I finally made into one! Comments and reviews are greatly appreciated xo

xo

IJaggys

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s